Bank Indonesia (BI) memperkirakan permintaan kredit
perbankan oleh kelompok korporasi masih akan kuat termasuk ketika pemerintah
menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). “Dari komunikasi saya dengan
pimpinan bank, diperkirakan akan terjadi pada tekanan pada kredit konsumsi
tetapi `demand` kredit korporat masih akan cukup kuat,” kata Deputi Gubernur
BI, Muliaman D. Hadad di Jakarta, Jumat.
Ketika menghadiri wisuda sekolah pimpinan bank (Sespibank) angkatan 47 dan
48 sekaligus pembukaan Sespibank angkatan 49 pada Lembaga Pendidikan Perbankan
Indonesia (LPPI), Muliaman mengatakan, perkiraan masih kuatnya permintaan
kredit oleh korporasi didasarkan kepada kondisi bahwa Indonesia masih
dipertimbangkan sebagai negara tujuan investasi setelah China dan India.
“Indonesia masih dipertimbangkan sebagai negera ketiga di Asia setelah China
dan India bagi investor untuk tanamkan modal. Jadi kita masih diperhitungkan,”
katanya. Menurut dia, BI terus melakukan “stress test” jika indutsri perbankan
nasional dihadapkan kepada situasi ekstrim seperti harga minyak dunia dan
ekonomi yang bergejolak.
“Secara industri kita harus kuat, saat ini kinerja masih bagus, pertumbuhan
kredit masih kuat. Pertumbuhan tahunan 2008 hingga saat ini masih sekitar
28,6 persen. Ini lebih tinggi dari tahun lalu,” katanya.
Sumber :IQP
DIarsipkan di bawah: Berita & Rumor